Bengkulu

Bencana Alam dan Respon Cepat TNI-Polri

bangunan warga rusak akibat gempa di Kabupaten Lebong (Foto: Kapenrem Gamas 041)

Bencana alam dalam satu bulan terakhir di Bengkulu datang silih berganti. Dimulai dari banjir yang melanda beberapa kawasan, siklon dahlia, hingga gempa bumi. Rentang bencana sangat rapat, jatuh bangun aparat sipil, militier dan kepolisian bekerja siang dan malam.

Beberapa kejadian terakhir semakin membuktikan sesungguhnya respon cepat dilakukan oleh TNI dan Polri. Dalam hitungan jam, kedua institusi ini perhitungan data korban dan kebutuhan di lapangan sudah diketahui publik. Ini berbanding terbalik dengan institusi sipil yang terkadang agak molor beberapa hari.

Pendataan korban dan kebutuhan pasca bencana sangat dibutuhkan oleh kepala daerah dalam upaya memutuskan kebijakan apa yang harus dilakukan. Sayangnya, pendataan sering kali telat. Aparat sipil, termasuk kalangan pers cenderung menyandarkan data riil pada TNI dan Polri.

Seringkali kita abai pada ancaman bencana alam, ia datang di saat masyarakat tak siap dan lengah. Pemerintah daerah, gubernur dan bupati, wali kota diharapkan dapat membuat sistem penanganan pasca bencana secara baik. Agar semua tidak bersandar pada TNI dan Polri.

Di Bengkulu banyak terbentuk kantong-kantong relawan siaga bencana mulai dari tingkat perguruan tinggi, masyarakat umum, bahkan kalangan jurnalis. Potensi relawan harus diperkuat dan diajak kerja cepat agar bencana tak meluas.

Kita mengapresiasi kerja cepat banyak pihak saat musibah datang. Tidak ada metode terbaik baku menangani bencana selain berlatih dan terus memperbaiki sistem dan mewaspadai semua potensi bencana.

Firmansyah

Comments are closed.