Bengkulu

Edisi PLTU Mengubur Bengkulu: Kami Khawatir

0
illustrasi:sumber www.rumahpengetahuan.web.id

Tahun 2016 satu perusahaan nasional milik Tiongkok dengan investasi Rp 2,1 triliun membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap di wilayah kami.

Tak sampai berkelang satu tahun, muncul lagi satu usulan pembangunan PLTU di satu tempat yang berbeda dengan investasi Rp 4 triliun. Artinya ada dua rencana PLTU di Provinsi Bengkulu. Semua akan beroperasi pada 2019. Dua PLTU ini menghasilkan 400 MW setrum

Tak banyak warga menolak, namun tidak sedikit juga yang melakukan penolakan. Mereka yang menolak umumnya para nelayan yang lokasinya tak jauh dari PLTU yang akan beroperasi pada 2019 itu.

Saya mencatat dengan jelas argumen dua kelompok itu. Intinya adalah khawatir. Kelompok menerima PLTU umumnya mereka yang khawatir dengan kebutuhan listrik Bengkulu yang katanya mengalami defisit.

Kebutuhan energi listrik di Bengkulu pada beban puncak sekitar 258 MW. Sementara, saat ini pasokan listrik yang ada ada hanya 236 MW.

Hadirnya dua PLTU ini akan menerangi Bengkulu, padahal dari ribuan desa di Bengkulu menurut ESDM hanya 28 desa yang belum teraliri listrik. Argumen turunan ekonomi akan membaik juga menguat jika PLTU beroperasi.

Argumen kelompok menolak tentu juga cukup kuat, pertimbangan kesehatan, kurangnya hasil tangkapan ikan, hingga aspek hukum juga mencuat.

Para nelayan di Bengkulu ternyata memiliki acuan cukup cerdas, mereka mengutip beberapa penelitian dari lembaga pendidikan terkemuka termasuk Harvard University.

Harvard University dan Greenpeace menurut nelayan itu, merilis laporan bertajuk “Ancaman Maut PLTU Batubara” yang memperlihatkan dampak buruk polutan PLTU batubara. Dalam laporan terungkap, operasi PLTU batubara di Indonesia, membuat 6.500 jiwa meninggal dini.

Penyebab kematian, 2.700 jiwa kena stroke, 2.300 jantung insemik, 300 kanker paru-paru, 400 paru obstuktif kronik, 800 lain karena penyakit pernafasan dan kardiovaskular. Ini karena paparan SO2, NOx dan PM 2,5 ditambah hujan asam, emisi logam berat seperti merkuri, arsenik, nikel, kromium dan timbal. Ditambah prediksi kematian negara tetangga Indonesia, mencapai 7.100 jiwa.

Angka ini diperoleh dari penelitian 42 PLTU di Indonesia, belum termasuk proyek 35.000 Megawatt yang dicanangkan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Apabila program dijalankan, prediksi kematian dini akan melonjak menjadi 15.700 jiwa per tahun di Indonesia,dan 21.200 jiwa jika ditambah negara tetangga.

Penelitian membandingkan antara PLTU beroperasi (PLTU Tanjung Jati B 2640 MW di Jepara) dan masih rencana (PLTU Batang 2000 MW). PLTU Jepara menyebabkan kematian dini 1.020 jiwa per tahun.”

Efek paling parah dari PLTU Tanjung Jati B terjadi di Kota Jepara, Kecamatan Pecanangan, Kembang dan Karangsari. Semarang, Rembang dan Lasem juga terpengaruh.

PLTU Batang yang diusulkan, akan menyebabkan kematian dini 30.000 jiwa dalam masa operasi 40 tahun.

PLTU Batang diprediksi menyebabkan kematian dini sebanyak 780 jiwa per tahun. Daerah terdampak seperti Pekalongan, Tegal, Semarang dan Cirebon.

Belum lagi radius berbahaya PLTU akan mematikan masyarakat secara perlahan dijarak 200 kilometer dari pusat pembangkit. (Bersambung)

Baca juga:  Edisi PLTU Mengubur Bengkulu: Ekspresi Bersyukur

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.