Bengkulu

Kidung Mangrove Penyelamat Bumi dan Nelayan Bengkulu

hutan mangrove hasil penanaman Anto/sumber foto: kompas.com

“Hijaulah wahai mangroveku, agar bubu berisi kepiting, udang dan ikan, bekal ku pulang untuk hidup keluarga,” demikian penggalan syair Usdariyanto (35) di sela mangrove/ bakau.

“Sepertinya saya harus membuat lagu untuk hutan bakau ya,” celetuk Usdariyanto.

Usdariyanto seorang nelayan kecil, tinggal di Kelurahan Padang Serai, RT 2 RW 01, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu.

Hidup Anto-sapaan akrabnya, cukup sederhana tinggal di rumah kecil yang lantai dan dindingnya belum selesai dilapisi semen. Ia tinggal bersama tiga anak dan satu isteri.

Keseharian Anto, menggantungkan hidup pada sungai dan laut, memasang bubu kepiting bakau adalah pekerjaannya. Tak banyak rejeki yang ia minta pada Tuhan kecuali ikan, udang dan kepiting yang terperangkap dalam bubunya tiap malam.

“Dalam satu malam bubu bisa mendapatkan uang sekitar Rp 200.000 atau empat kilogram kepiting, dipotong modal Rp 60.000 untuk beli pertalite, karena premium sulit didapat,” ujar Anto.

Hidup Anto pada mangrove sudah bersimbiosis sejak tahun 1996. Ia dikenal sebagai nelayan yang pantang melihat biji mangrove. “Ia kalau lihat biji mangrove langsung dipungut dan ditanam,” ujar Fajar, nelayan rekan Anto.

Anto mengajak saya mendatangi tanaman mangrove yang telah ditanamnya tahun 2008. Sepanjang 2,5 kilometer kawasan sempadan pantai telah rimbun dan hijau oleh mangrove, kawasan tersebut terletak di Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu.

Menuju kawasan itu Anto mengajak kami menaiki perahu motor kecil miliknya yang sering dia gunakan mencari kepiting, perjalanan membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit. Dahulunya kawasan itu gundul dan bukan tempat favorit mencari ikan.

“Kawasan ini saya tanami bakau sejak 2008, saat itu saya sering memancing, iseng saya tanami bakau secara terus menerus, bibitnya sekitar 10.000 batang, bantuan dari nelayan lain.Tidak semua hidup yang hidup mungkin sekitar 8.000 batang,” kata Anto memperlihatkan hasil tanaman bakaunya yang rimbun.

Saat ini, di sela bakau itulah ratusan nelayan termasuk Anto kerap mencari ikan, udang, kepiting dan ikan. Sejak hutan mangrove yang ia tanami lebat dan rimbun, maka mulai ramailah di kawasan itu dipasang belek (bubu besar) oleh para nelayan untuk menjebak kepiting bakau yang harganya mahal.

Banyak di antara nelayan yang mencari ikan di lokasi mangrove tersebut tidak tahu bahwa bakau lebat tersebut adalah kerja keras Anto. “Saya merasa bahagia saja, lihat bakau sudah lebat dan bermanfaat untuk ratusan nelayan,” ujarnya.

Saat ditanya alasan dia getol menanam mangrove di setiap tepi pantai, Anto hanya menjawab, “Saya bingung kalau ditanya apa latar belakang, yang saya tahu sejak tamat SMA, bakau itu menghasilkan oksigen dan menyerap karbon, juga tempat ikan bersarang dan bertelur,” sebutnya.

Dia juga menyadari mangrove juga berfungsi sebagai sabuk hijau pertahanan permukiman masyarakat bila terjadi tsunami dan menahan laju abrasi. Anto mengaku tidak tahu pasti luas kawasan yang telah ditanaminya sejak tahun 1996.

“Saya tidak tahu berapa luas dan berapa batang bakau, yang pasti kawasan yang saya tanami itu saat ini sudah hijau oleh mangrove,” ucapnya.

Cara Anto menanam cukup sederhana. Setiap hari sekitar pukul 15.00 WIB hingga pagi hari ia membawa perahunya ke laut dan sungai untuk memasang bubu kepiting di sela mangrove atau tengah sungai.

“Sembari menunggu bubu terisi kepiting, saya manfaatkan untuk mengumpulkan biji bakau dan langsung menanamnya, itu saja. Pasti tumbuh, tidak perlu pembibitan,” katanya.

Tidak ada bantuan dari pihak manapun, semua dilakukan secara swadaya dan kesadaran bahwa dirinya dan generasi mendatang membutuhkan mangrove, agar ikan dan udara tetap ada.

Diancam bacok

Perjuangan Anto menghijaukan kawasan sempadan pantai bukan tanpa halangan, beberapa kali ia sempat dikejar masyarakat yang mengira dirinya hendak mengambil tanah yang berada di tepian pantai.

“Tanah di tepi pantai ini kawasan konservasi, maka saya tanami, ada warga yang menguasai tanah itu, ketika saya tanami mangrove saya dikejar sambil menghunus parang, dikiranya saya mau ambil tanah,” ceritanya sambil tertawa.

Ancaman berikutnya, ada beberapa masyarakat yang semena-mena menebang pohon di mangrove untuk menggunakan kayunya atau getahnya sebagai pewarna jaring. “Saya tak punya kewenangan melarang, cuma mengingatkan saja. Saya sedih kalau lihat mangrove yang sudah besar ditebang. Saya melarang tak punya kewenangan, jadi saya nanam sajalah,” ungkap dia.

Ia juga pernah hendak membuat lembaga pelestari mangrove namun karena keterbatasan dana niat itu terpaksa ditunda. “Saya pernah tanya ke notaris katanya butuh dana Rp 3 juta, wah saya tak punya uang sebanyak itu,” ujarnya terkekeh.

Selain itu, ancaman perahu cepat juga kerap kali merusak tanaman mangrove Anto dan nelayan lain, terutama mangrove berusia muda. “Ombak kapal cepat sering membuat mangrove muda tercabut dan mati. itu ancamannya, saya sering minta tolong agar pengemudi kapal cepat tidak ngebut kalau lewat,” katanya,

Menular

Perilaku Anto yang kerap menanami mangrove di kawasan tepian pantai ternyata menular ke nelayan kecil lainnya. Sebut saja Fajar dan Andri, merupakan nelayan lainnya yang keranjingan menanam bakau.

“Kami akhirnya ikut-ikutan Anto, di sela mencari udang, kalau ada biji mangrove yang jatuh kami tancapkan ke pasir. Atau kami kumpulkan bibitnya, kalau tidak sempat menananamnya kami antarkan bibitnya ke Anto untuk ditanam,” sebut Fajar.

Andri menceritakan, setiap ia menemukan biji bakau di tepi pantai maka ia ingat Anto dan memungut serta menanam biji bakau secara spontan.

“Kadang kalau ketemu biji bakau saya pungut lalu tanam, atau kalau sudah terlalu banyak saya serahkan ke Anto untuk dia tanami. Saya merasakan ada perbedaan hasil tangkapan di lokasi yang ada bakau dan tidak. Di tempat ada bakau ikan dan kepitingnya banyak,” kata Andri.

Selain menular ke nelayan, tindakan Anto juga menarik minat beberapa mahasiswa di Bengkulu ikut melakukan aksi penanaman bakau sembari mencari ikan.

“Saya ikut Mas Anto belajar mencari kepiting, mengemudikan perahu dan menanam mangrove. Saya banyak belajar dari Mas Anto,” ungkap mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bengkulu, Fajar.

nelayan mendayung perahu di sela mangrove tanaman Anto Sumber foto: kompas.com

Mangrove dan perubahan iklim

Pengajar dan Pemerhati Perubahan Iklim Universitas Bengkulu Gunggung Seno Aji, dalam sebuah risetnya menyebutkan Ekosistem mangrove sangat baik untuk menyerap karbon pemicu pemanasan global dan perubahan iklim.

Tegakan mangrove, melalui proses fotosintesis menyerap karbon dioksida dari atmosfer yang diubahnya menjadi karbon organik dalam bentuk biomassa.

Pelestarian hutan mangrove sangat penting dilakukan dalam mitigasi perubahan iklim global karena tumbuhan mangrove menyerap karbon dioksida dan mengubahnya menjadi karbon organik yang disimpan dalam biomassa tubuhnya, seperti akar, batang, daun, dan bagian lainnya.

Di Pesisir Kota Bengkulu memiliki luas areal mangrove sekitar 214,62 hektar. Terletak di Taman Wisata Alam (TWA) dan Areal Peruntukkan Lain (APL). “Mangrove yang berada dalam TWA relatif masih baik, tapi di APL sudah rusak butuh rehabilitasi,” kata dia.

Gungggung menyebutkan, dari total luasan kawasan mangrove di Kota Bengkulu sebesar 214,62 hektar dapat menyimpan karbon sebanyak 2.532,50 ton karbon.

“Kandungan biomassa pada tegakan mangrove di pesisir Kota Bengkulu adalah sebesar 37,06 ton/ha; dengan jumlah kandungan karbon tersimpan sebesar 18,53 ton/ha. Luas ekosistem mangrove yang berkerapatan sedang-tinggi luasnya sekitar 136,67 ha, berarti jumlah kandungan karbon tersimpan pada tegakan adalah sebesar 2.532,50 ton karbon,” paparnya.

Ia menyarankan pemerintah dan masyarakat secara umum dapat merehabilitasi kawasan mangrove yang rusak.

“Panjang garis pantai Bengkulu 525 kilometer, ini potensi luar biasa apabila kawasan itu dipenuhi dengan mangrove, nelayan sejahtera, ekonomi membaik, selain itu Bengkulu juga berkontribusi dalam upaya penanganan dampak perubahan iklim,” ucap Gunggung.

FIRMANSYAH

Tulisan ini pernah ditayangkan di kompas.com

Video : Mesin Pembakar Sampah Ramah Lingkungan

Comments are closed.