Bengkulu

Makna Filosofis Tari Perang dan Semut Suku Enggano

 

Masyarakat adat Enggano berkostum jelang tari perang

Kamiyu, terompet yang terbuat dari cangkang hewan laut berukuran besar ditiupkan, oleh panglima
perang sekaligus kepala suku. Para anggota suku yang tadinya merayakan pesta tampak berigap menenteng tombak dan pedang membentuk lingkaran.

Para anak suku, perempuan,berada dalam lingkaran. Tiba-tiba suku lawan datang menyerang secara bertubi-tubi, pertempuran tak dapat dihindari. Di tengah pertempurang berkecamuk, tampak kaum perempuan melakukan negosiasi dengan bahasa khas Enggano.

Negosiasi terpenuhi, para kepala suku dan panglima perang kedua belah pihak tampak berdamai dan meletakkan senjata ke tanah sebagai lambang perdamaian.

Demikianlah bentuk kolosal tarian perang khas Suku Enggano. Sebuah tarian yang diciptakan sebagai bentuk peringatan bagi semua manusia bahwa perang hanya menghasilkan kerugian kedua belah pihak.

“Tari perang menggambarkan perang harus disudahi, perdamaian harus diraih, tak ada keuntungan perang itu,” kata Kepala Suku Kaitora yang mendiami Pulau Enggano, Rafly Kaitora.

Kolosal tarian Suku Enggano itu dipertunjukkan dalam Musyawarah Wilayah Aliansi Masyarakat Adan Nusantara (AMAN), Wilayah Bengkulu, 13 Desember 2017. Pulau Enggano terletak di Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu. Pulau tersebut berada di tengah Samudera Hindia dengan jumalh penduduk lebih dari 3.000 jiwa.

Tarian perang menceritakan pertikaian antar suku di Pulau Enggano. Rafly mengisahkan ada lima suku asli yang mendiami Pulau Enggano. Kelima suku itu yakni Kauno, Kaitora, Kaaruba, Kaarubi, dan Kaaohao.

Lima suku ini kerap bertempur dipicu oleh perebutan tanah dan tempat mencari ikan. akibat kerap bertempur terdapat beberapa suku yang anggota sukunya tinggal sedikit.

“Maka terjadilah perdamaian yang disepakati untuk tidak lagi bertempur satu sama lain,” jelas Rafly.

Tari Semut

Perdamaian tersebut tercipta, sebagai bentuk optimisme membangun hidup bersama dan berdampingan, kelima suku tersebut menciptakan tarian semut. Tari semut dilakukan secara beramai-ramai oeh kelima suku. Semua penari memegang pinggang atau pundak anggota suku lain.

Tari semut terlihat sederhana seperti membentuk lingkaran, berputar, atau berbaris memanjang. Makna filosofis tari semut adalah gotong royong membangun kehidupan secara berdampingan.

Di sela tari semut akan diiringi teriakan riang gembira dan diselingi wajah yang bersuka ria.

“Ini tari kebahagiaan makanya tari semut wajah semua penari harus terlihat bahagia,” ujar Rafly.

Tari perang dan semut merupakan simbol perdamaian dan hidup berdampingan antarsuku yang menempati Pulau Enggano. Kedua tari ini kerap dipertontonkan dalam pesta adat dan menyambut tamu kehormatan.

Video: https://www.youtube.com/watch?v=J9868ld3-qo

 

Comments are closed.

Translate »