Bengkulu

Mengapa Badai Siklon Indonesia selalu Dinamai Bunga?

Siklon cempaka, sumber foto: viva

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Fatmawati Bengkulu, M.Fajar Handoyo menyebutkan nama badai siklon yang telah dan akan terjadi di Indonesia akan selalu berupa nama bunga.

Badai siklon yang berpusat di Samudera Hindia, barat daya banten, namun berpengaruh di perairan Bengkulu mengakibatkan meningkatnya intensitas hujan, tinggi ombak disertai badai. Di perairan laut tengah Bengkulu ombak mencapai 5 meter.

Siklon dahlia terjadi nyaris bersamaan dengan siklon cempaka, bahkan pada tahun 2010 badai siklon anggrek juga pernah melanda.

“Nama itu diberikan untuk menghargai orang Indonesia yang menemukan nama-nama badai siklon, memang disepakati nama bunga,” jelas Fajar, Kamis (30/11/2017).

Agus Lukman dalam tulisannya di portal kbr.id menyebutkan ada beberapa istilah untuk menyebut badai di perairan laut. Di wilayah Samudera Pasifik, biasa disebut badai atau ‘hurricane’. Di wilayah Pasifik Utara dan Filipina, biasa disebut dengan angin topan, sedangkan di kawasan Samudera Hindia dan Pasifik Selatan disebut siklon atau siklon tropis.

Namun pada intinya, hurricane, topan atau siklon adalah sebutan fenomena angin kencang yang memiliki kecepatan di atas 74 mil per jam atau sekitar 119 kilometer per jam.

Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) menyebut penamaan badai atau siklon dilakukan untuk mempermudah orang mengingat akan pesan peringatan bahaya, ketimbang mengingat istilah-istilah teknis atau identifikasi badai dengan angka. Termasuk mempermudah media memberitakan peringatan dini badai atau topan.

Jakarta Tropical Cyclone Warning Center dibentuk BMKG pada 24 Maret 2008 khusus memantau kelahiran bibit-bibit calon badai maupun pergerakan badai dari wilayah lain.

Berbeda dengan sembilan zona pembagian penamaan badai, Jakarta TCWC memberi nama badai menggunakan nama bunga, dan nama itu sudah terdaftar dan diakui WMO.

Sebelumnya, BMKG memberi nama berdasarkan nama wayang, seperti siklon tropis di perairan barat daya Bengkulu pada 22-25 April 2008 yang diberi nama siklon tropis Durga (salah satu karakter wayang Dewi Durga).

Namun, agar nama siklon tidak terlalu menakutkan, Jakarta TCWC memutuskan mengganti nama badai dengan nama bunga dan buah secara abjad.

Secara berurutan, dimulai dengan siklon tropis di perairan barat Sumatera pada 30 Oktober-4 November 2010 diberi nama siklon tropis Anggrek, dilanjutkan siklon tropis Bakung di perairan barat daya Sumatera pada 11-13 Desember 2014.

Selanjutnya siklon tropis Cempaka pada 27-29 November 2017 dan dilanjutkan dengan siklon tropis Dahlia yang terdeteksi lahir pada 30 November 2017.

Berdasarkan urutan, setelah Angrek, Bakung, Cempaka dan Dahlia, akan disusul Flamboyan, Kenanga, Lili, Mangga, Seroja dan Teratai.

FIRMANSYAH

Comments are closed.