Bengkulu

Pesan Menyentuh Hati Perempuan Peraih Tasrif Award

0
Perempuan peraih Tasrif Award/ Foto: SOLOPOS

Acara HUT ke 23 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada Senin (7/8/2017), malam mendadak hening dan diliputi haru. Tamu yang hadir terdiam, alunan musik juga berhenti saat tiga juri mengumumkan peraih Tasrif Award.

Tasrif Award diberikan AJI kepada individu/kelompok/lembaga yang gigih menegakkan kebebasan pers, kebebasan berekspresi, dan nilai-nilai keadilan serta demokrasi. AJI Indonesia membangun tradisi penghargaan Tasrif Award untuk menghidupkan semangat Bapak Kode Etik Jurnalistik Indonesia itu memperjuangkan kemerdekaan pers dan kemerdekaan berpendapat.

Kali ini penghargaan itu diberikan pada dua kelompok perempuan di balik rangkaian aksi damai yang konsisten selama bertahun-tahun. Kedua kelompok perempuan itu yakni para perempuan di balik aksi Kamisan, dan aksi petani Kendeng yang bergerak dari kawasan karst tersebut hingga Ibu Kota.

Perempuan konsisten dibalik aksi kamisan itu salah satunya yakni Suciwati, Istri Almarhum Munir dan Sumarsih, ibunda Wawan (korban tragedi Semanggi I). Dalam pidatonya ia katakan sungguh tragis telah 500 kali ia dan perempuan lain menuntut agar negara berlaku adil terhadap pengungkapan kasus pelanggaran HAM di depan istana namun yang didapat pengharagaan Tasrif Award.

“Sudah 500 kali kami melakukan beragam aksi damai di depan istana meminta penguasa agar mengungkap dan mengadili para pelanggar HAM. Namun sampai saat ini hal tersebut tak pernah dipenuhi penguasa,” kata Suciwati.

Penguasa justru mengangkat pelanggar HAM itu sebagai pejabat negara. Penguasa menurut Suci telah lupa pada janjinya untuk menyegerakan mengungkap dan mengadili pelaku pelanggaran HAM.

Aksi Kamisan yang dilakukan secara konsisten itu diharapkan dapat memutus rantai panjang belenggu ketidakadilan dan melemahkan kekebalan hukum yang dinikmati oleh orang dan kelompok tertentu di Indonesia.

Diakhir pidatonya Suciwati mengucapkan terimakasih pada jurnalis yang terus merawat ingatan publik bahwa hingga saat ini kasus pelanggaran HAM di Indonesia belum menemukan keadilannya.

Kelompok perempuan peraih Tasri Award beriktunya yakni perempuan Kendeng yang dengan konsistensinya menolak pembangunan pabrik di kampungnya.

Sutinah, salah seorang perempuan yang menggelar aksi jalan kaki ke istana dan menyemen kakinya didaulat memberikan pidato. Pidato awalnya menggunakan bahasa Jawa halus.

“Sejak 2013, saya dan rekan-rekan petani kendeng melakukan protes tapi tidak didengarkan. Tahun 2016, saya dan saudara-saudara Kandeng melakukan jalan kaki sejauh 135 km, itu demi agar bumi tetap lestari. Itu pun tidak bisa membuka hati gubernur dan bupati, akhirnya kami cor kaki dan Bu Patmi meninggal dunia,” kata Sutinah dikutip dari solopos.

Suasana di ruangan itu masih hening, Sutinah melanjutkan pidatonya. Ia sebutkan, ia tidak menolak pembangunan di kampungnya. Namun menurutnya pembangunan itu kurang tepat karena akan merusak lingkungan di sekitarnya.

Sutinah, Suciwati, dan Sumarsih merupakan simbol perlawanan kaum perempuan terhadap ketidakadilan. Perlawanan yang mereka lakukan sangat khas pada kekuatan perempuan yakni pada kelembutan dan konsistensi.

Suciwati dan Sumarsih mencari keadilan pada negara atas kematian orang yang mereka cintai. Sementara Sutinah, mencari keadilan atas kampung mereka yang terancam hancur luluh dihantam pabrik semen.

Usai para perempuan itu berpidato, saya hanya bersandar pada dinding ruangan di acara itu. Saya merasa tak berguna di tengah masyarakat, saya berusaha menyimpan wajah dengan menatap lantai agar air mata yang meleleh tak terlihat.

FIRMANSYAH

Leave A Reply

Your email address will not be published.