Bengkulu

Spanduk “Merdeka dari Energi Kotor, Stop PLTU Batubara” Hadiah HUT RI di Bengkulu

0
Warga memasang spanduk di gerbang utama kantor Gubernur Bengkulu

Puluhan warga Bengkulu yang tergabung dalam berbagai perwakilan organisasi kemasyarakatan dan lingkungan hidup memasang spanduk bertuliskan “Merdeka dari Energi Kotor, Stop PLTU Batubara di gerbang utama kantor Gubernur Bengkulu, Rabu (16/8/2017).

Puluhan warga itu menggunakan caping petani dan langsung memasang spanduk tersebut tanpa banyak memberikan keterangan pada media.

Salah satu organisasi yang ikut dalam aksi tersebut yakni, Yayasan Kanopi. Staf Kajian dan Kampanye Kanopi Bengkulu, Suarli mengatakan sejak penandatanganan kontrak antara PLN, pemerintah daerah dan PT Pelindo terkait pembangunan PLTU batu bara di Teluk Sepang, Kota Bengkulu berbagai persoalan sudah muncul di lapangan.

“Baru-baru ini misalnya, puluhan tenaga kerja lokal diberhentikan dan diganti dengan buruh asal luar daerah, tepatnya dari Pulau Jawa.
Belum lagi, debu ratusan truk yang setiap hari melintasi jalur utama warga Teluk Sepang menuju pusat Kota Bengkulu selama ini sudah dikeluhkan warga setempat,” ujarnya.

Karena itu, Kanopi Bengkulu bersama masyarakat menggelar aksi pemasangan spanduk “ Merdeka dari energi kotor, Stop PLTU Batu Bara”, di empat titik Kota Bengkulu, diantaranya: Kelurahan Teluk Sepang, Kantor Gubernur Provinsi Bengkulu, Kantor DPRD Provinsi Bengkulu, Simpang Lima Kota Bengkulu.

Aksi ini seruan bagi pemerintah untuk menghentikan pemakaian batu bara sebagai sumber energi listrik dan segera beralih ke energi bersih terbarukan seperti tenaga surya, tenaga angin, tenaga air, panas bumi dan tenaga gelombang laut yang potensinya melimpah di negeri ini.

Aksi ini juga mengajak kepedulian masyarakat Kota Bengkulu untuk memastikan energi yang digunakan untuk kehidupan kita adalah energi yang berkelanjutan tanpa mengancam masa depan anak cucu.

Ia melanjutkan, Di wilayah Bengkulu, PLTU batu bara akan dibangun di Pulau Baai, Kota Bengkulu dengan daya 200 MW. Bila pembangkit ini berdiri sebanyak 2.900 ton batu bara akan dibakar per hari.

Dampaknya jelas, polusi udara menghantui masyarakat di wilayah Kota Bengkulu, bahkan nelayan di Kelurahan Teluk Sepang, terancam terusir dari wilayah ruang kelola mereka mencari ikan.

Pembakaran batu bara akan mencemari udara dengan polutan yang mengandung SO2, NOx dan PM 2,5 ditambah hujan asam, emisi logam berat seperti merkuri, arsenik, nikel, kromium dan timbal.

Akibatnya, rakyat akan terpapar polusi yang dapat memicu penyakit stroke, jantung insemik, kanker paru-paru, paru obstuktif kronik, dan lain karena penyakit pernafasan dan kardiovaskular.

Karena itu, alih-alih menambah pembangkit baru, pemerintah harus mulai mengurangi ketergantungan negeri ini terhadap bahan bakar fosil batu bara, karena hal ini berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

(KANOPI)

Leave A Reply

Your email address will not be published.